Cimahi-Tidak ada lagi sumber air permukaan juga air tanah dalam yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan cakupan layanan PDAM Tirta Raharja (PDAM TR) Kabupaten Bandung bagi para warga di Kota Cimahi yang tidak mengalami penambahan satu sambungan langganan (SL) pun sejak 10 tahun lalu. Pilihan hanya memungkinkan berupa proyek pemanfaatan air Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat, sebagaimana digagas Kementrian PU. Dibutuhkan kebesaran hati dan keseriusan para kepala daerah untuk mewujudkan proyek yang ditaksir senilai Rp 635 miliar tersebut.
Direktur Utama PDAM TR Kabupaten Bandung Rudie Kusmayadi mengungkapkan, bahwa sejak pemekaran Kota Cimahi pada 2001, jumlah pelanggan tidak beranjak dari 15.042 SL, atau sekitar 23 persen dari jumlah penduduk ketika itu. Sekarang, dengan jumlah penduduk terus membengkak, persentase cakupan pelayanan melorot menjadi 16 persen.
“Praktis selama ini kami hanya mengandalkan Situ Lembang sebagai satu-satunya sumber air baku. Tidak ada sumber baku lain di Kota Cimahi, baik mata air maupun sungai, yang bisa dimanfaatkan,” katanya, Kamis (29/9), di Kantor Pusat PDAM TL, Jalan Kolonel Masturi, Kota Cimahi.
Menurut Rudie, pilihan paling memungkinkan untuk meningkatkan cakupan layanan air bersih bagi warga Kota Cimahi adalah realisasi megaproyek pemanfaatan air Waduk Saguling yang digagas Kementrian PU yang melibatkan berbagai daerah di kawasan Bandung Raya. Menurut perencanaan awal, ditargetkan pada awal 2012 nanti, sudah terbuat DED (Detail Engineering Design). Pada akhir tahun yang sama, pekerjaan fisik dimulai. Jika proyek ini berjalan, diperkirakan cakupan layanan air bersih di Kota Cimahi bisa mencapai 100 persen.
Meski setiap kepala daerah telah menandatangani nota kesepahaman awal pada 2009, hingga kini belum ada keputusan perihal pembagian sumber pendanaan proyek senilai Rp 635 milyar tersebut. “Saya kira, di sinilah nanti terjadi pembahasan yang tidak mudah. Dibutuhkan kebesaran hati dan keseriusan para kepala daerah untuk dapat merealisasikan proyek ini. Harus diakui, kadang masih ada ego daerah,” ujar Rudie.
Untuk menuntaskan persoalan air bersih di Kota Cimahi, proyek pemanfaatan air Waduk Saguling untuk memenuhi kebutuhan warga akan bersih dinilai lebih realistis dibandingkan upaya secara parsial dengan membangun sumur-sumur bor. Selain menelan biaya besar, baik untuk pembuatan maupun perawatan, umur sumur bor tak lebih dari lima tahun karena proses penuruna permukaan air tanah. PDAM TR, misalnya, telah membangun 20 sumur bor yang tersebar di berbagai daerah dan saat ini tingga dua di antaranya yang masih berfungsi.
Pembuatan sumur bor dan sumur artesis selama ini menjadi pilihan Pemkot Cimahi dalam menanggulangi krisis air bersih sepanjang musim kemarau. Pengelolaan diserahkan kepada kelompok-kelompok masyarakat setempat. “Harusnya air bersih memang dipasok dari PDAM. Tapi karena sumber air baku tak ada, dibuatlah sumur-sumur artesis. Ini sebenarnya jalan terakhir,” kata Kepala Bidang Air Bersih dan Air Limbah Domestik Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Cimahi Djani Ahmad Nurjani.
Sabtu, 01 Oktober 2011 22:36 WIB
Wahh..kalau lama-lama bisa habis juga seluruh persediaan air yah

Komentar via Facebook